Sebagaimana diketahui bahwa Nuri Sahin pindah ke Liverpool sementara sebagai pemain yang berstatus pinjaman dari Real Madrid. Pada awalnya terdapat rumor yang sudah menyebar bahwa ia akan masuk ke Stadion Emirates, Arsenal. Namun entah mengapa tiba-tiba ia bisa lebih cenderung ke Brendan Rodgers. Ia bersikeras bahwa ia bergabung dengan Liverpool karena dia melihat semangat dan prospek jangka panjang klub ini di bawah asuhan Brendan Rodgers judi bola.
Dia menambabhkan bahwa untuk mendapatkan uang berlimpah dari berbagai tawaran klub bisa saja ia lakukan dan ada banyak caranya. Ia berkata," satu-satunya alasan saya datang ke sini adalah bahwa saya sudah belajar betul mengenai karakter bermain Liverpool dan Brendan Rodgers, dan saya yakin bahwa saya akan cocok di sini. Saya memiliki manajer pelatih yang mempercayai saya dan cara saya bermain telah sesuai dengan dia. Saya sepatutnya memilih klub besar yang mana kepercayaan itu mutlak ada antara saya, pemain dan manajer." Ujarnya dengan judi bola.
Nuri Sahin juga mengungkapkan bahwa sosok Brendan Rodgers hampir sama dengan tipikal pelatih sekaligus manajer yang disukainya, yakni Jurgen Klopp. Jurgen Klopp adalah manajer sukses Borussia Dortmund yang telah membawa klub tersebut ke puncak Bundesliga secara berturut-turut bahkan setelah ia pindah ke Real Madrid sekalipun. Cara strategi bermain Rodgers hampir mirip dengan Jurgen Klopp, dan hal inilah yang menyebabkannya jatuh cinta pada Liverpool di judi bola.
Di lain pihak, kepindahan Nuri Sahin memang dimungkinkan sekali oleh pelatih Jose Mourinho demi menjagi rotasi pemain aktif mereka tanpa kehilangan. Jose Mourinho dikabarkan sangat berpengaruh besar pada kepindahan Sahin ke Liga Premier. selain itu rekan Nuri Sahin di Real Madrid, Xabi Alonso juga dikabarkan membujuk Sahin agar memilih liverpool saja, sebab Alonso telah pernah merasakan bermain sukses di Liverpool dengan judi bola.
Entah benar atau tidak, namun kepindahan Sahin ini menambah daftar panjang PR yang harus dikerjakan oleh Brendan Rodgers. Manajer bekas Swansea ini tampaknya sangat gemar sekali memainkan model tik-tak yang telah dipopulerkan oleh Barcelona saat di bawah kendali Pep Guardiola.
Namun, ironisnya, hingga 3 pertandingan di awal musim Liga Premier ini Liverpool belum menunjukkan tanda-tanda kegarangannya. Terakhir tim tempat bernaung Steven Gerrard tersebut luluh lantak oleh Arsenal dengan skor 2-0. Jika menilik lebih jauh, cara bermain tik-tak lebih disukai oleh pemain Amerika Latin daripada Inggris atau sebagian Eropa. Sebab nyata-nyata bahwa cara bermain yang diharapkan oleh Brendan Rodgers tersebut lebih memilih kemampuan skill individu daripada tim. Nah, semoga Nuri Sahin mampu menjawabnya.




